Selasa, 06 Oktober 2009

Kisah Sutadi, Puluhan Tahun Beternak Ayam Bangkok Petarung

"Lahirkan" Ratusan Ayam Petarung, Jadi Rujukan Pecinta Ayam Bangkok

Memiliki ayam laga (jenis Bangkok) yang tangguh menjadi kebanggaan tersendiri bagi penggemar berat adu jago. Tak jarang, mereka rela berburu hingga luar daerah untuk mendapatkan ayam aduan yang bagus. Peluang ini ditangkap Sutadi, peternak ayam Bangkok di Purwodadi. Ayam-ayam yang lahir di kandangnya, banyak diburu para pecinta ayam Bangkok.

SAIFUL ANNAS, Grobogan

---

Empat ekor ayam laga jenis Bangkok yang berada di kurungan terpisah di depan rumah Sutadi, menjadi isyarat si empunya rumah adalah penggemar berat ayam laga itu. Terlebih, postur tubuh keempat ayam tersebut gagah dan tegap. Warna bulu ayam-ayam tersebut bersih dan mengkilat, pertanda ayam laga itu dirawat serius oleh pemiliknya.

Ya, pemiliknya, Sutadi, tak hanya sekedar penggemar berat ayam laga. Lebih dari itu, warga kampung Plindungan RT 1/1, Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwodadi itu telah puluhan tahun menjadi peternak ayam laga. "Sudah lupa kapan saya mulai beternak, yang jelas sudah puluhan tahun," ujarnya sembari tersenyum tipis.

Pria berbadan tegap itu pun mengajak Radar Kudus ke bagian belakang rumahnya yang terletak persis di pinggir Jalan Untung Suropati Purwodadi itu. Benar saja, di halaman belakang rumahnya yang sederhana itu, terdapat kandang-kandang ayam yang dibuatnya dari belahan bambu. "Total kini saya memiliki ayam lancuran (siap adu) sebanyak enam ekor," terangnya bangga.

Ditanya berapa harga ayam perekornya, pria berusia 58 tahun itu malah tertawa. Bapak dua anak itu mengaku tak pernah mematok harga pasti berapa harga ayamnya satu persatu. Jika pembeli yang sebagian besar merupakan pelanggarannya menawar denganharga pantas, ia pun merelakannya. "Tak ada harga pasti. Yang telah terjual ya antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta," terangnya.

Nama Sutadi semakin akrab dengan warga Purwodadi, setelah salah satu ayamnya sempat menghebohkan warga setempat. Seperti diberitakan Radar Kudus (30/9), salah satu ayam indukannya menetaskan anak ayam yang tak biasa. Di mana anak ayam berjenis kelamin betina itu memiliki tiga kaki dan dua dubur. Sejak diberitakan itu, ayam Sutadi kerap diperbincangkan warga setempat. "Ya, sejak saya punya ayam unik ini, semakin banyak yang berdatangan ke rumah," tuturnya.

Dengan semakin banyaknya warga yang penasaran datang ke rumahnya, ia berharap ayam-ayam lancuran miliknya pun cepat laku. Selain enam ayam 'jadi' itu, Sutadi kini memiliki enam babon (ayam betina) dan dua ayam pacek (indukan). "Tapi khusus untuk ayam ini memang tak dijual. Untuk koleksi sendiri," katanya saat ditanya harga ayam uniknya itu.

Selain anak ayam unik itu, Sutadi kini juga menyimpan dua telur ayam jago. Ya, selain ayam betina yang bertelur, ayam jago terkadang juga mengeluarkan telur. Hanya saja, ukuran telur ayam jago ini lebih kecil dibanding telur-telur ayam betina.

Selain ukurannnya yang lebih kecil, warna telur ayam jago biasanya lebih gelap dibanding telur ayam betina. Hanya saja, intensitas ayam jago yang bertelur juga tak bisa diprediksi. Telur ayam jago itu pun tak bisa menetas layaknya telur indukan betina. "Meski demikian, banyak juga yang mencari. Katanya untuk obat. Untuk itu setiap ada ayam jago yang bertelur, saya selalu menyimpannya jika sewaktu-waktu ada yang mencarinya," ucapnya.

Bapak tiga anak itu menambahkan, selain ayam lancur, ayam anakan pun banyak diburu para pembeli. Disebutkan, selain dari Purwodadi, para pembeli langganannya banyak jug ayang datang dari kabupaten tetangga seperti Blora, Pati, Solo dan Demak. "Untuk mendapatkan anakan yangbagus, indukannya juga harus bagus," jelasnya.

Indukan yang digunakannya puntak sembarang. Disebutkan, dua ayam jago yang jadi indukan miliknya telah memenagi laga tujuh kali lebih. Dengan silsilah juara itu, diharpakan anakan ayam yang dilahirkannya pun mewarisi bakat juara indukannya. "selain itu, indukan harus memiliki postur tubuh yang bagus," bebernya.

Puluhan tahun menggeluti usaha ternak ayam laga ini pun membuat instingnya terasah. Terutama kapan musim-musin penyakit dating. Disebutkan, musim kemarau tahun ini disebut-sebut membawa kerugian besar bagi usahanya itu. Sebab, akibat cuaca panas yang menerpa kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah itu, sebelas ayam miliknya mati kepanasan. "Memamg setiap musim kemarau banyak ayam yang mati. Jadi ini telah kita antisipasi sejak awal," pungkasnya.



Sumber:
http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=118338
 
Central Bangkok Farm Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template